Google+ Followers

Wednesday, 3 April 2013

Jangan cela orang mati


ISLAM mengajar kita adab berperilaku kepada siapa sahaja termasuk terhadap orang yang sudah mati. Antara adab-adab itu ialah tidak menceritakan aib orang mati jika tanpa hajat yang mendesak. Sebab perkara ini termasuk dalam ghibah yang diharamkan.

Rasulullah Saw bersabda: Janganlah mencaci orang yang telah mati. Sebab mereka telah mendapat balasan atas perbuatan yang mereka lakukan. (riwayat al-Bukhari)

Larangan itu mengandungi pengajaran akhlak yang sangat tinggi. Ini juga sangat penting untuk menjamin hubungan baik tetap terjaga di dalam pergaulan masyarakat. Sebab menyebut keburukan orang mati tidak akan menyakiti orang itu. Sebab orang mati tidak dapat lagi mengetahui apa yang berlaku di alam dunia sepeninggalan mereka.

Perbuatan menyebut keburukan orang mati hanya akan menyakiti orang-orang yang masih hidup sama ada ahli keluarga ataupun sahabat-sahabatnya. Jika orang yang sudah mati itu seorang tokoh pemimpin masyarakat, maka menyebutkan keburukannya akan melahirkan kemarahan di kalangan para penyokongnya. Jika dibiarkan, akan berlaku perpecahan yang akan merugikan perpaduan masyarakat.

Dalam Mustadrak al-Hakim diceritakan: "Suatu hari seseorang menyebut keburukan ayah Abbas (paman Nabi) yang telah lama mati, maka Abbas menampar wajahnya."

Ahli keluarga orang itu lalu berkumpul untuk menuntut keadilan. Mereka menginginkan agar Abbas dikenakan hukuman atas perbuatan tersebut.

Baginda lalu bersabda: "Siapakah manusia yang paling mulia di sisi Allah?"
Mereka menjawab: "Anda, wahai Rasulullah."

Baginda bersabda lagi: "Sesungguhnya Abbas adalah sebahagian daripada diriku, dan aku sebahagian daripadanya. Janganlah engkau mencela orang yang telah mati daripada kami sebab ia akan menyakitkan orang yang hidup."


Sebut kebaikan

Kita tidak hidup seorang diri di muka bumi ini. Kita juga tidak bersih daripada cacat dan cela. Maka apabila kita mula menceritakan aib orang lain, maka orang lain pun akan mencari-cari aib kita untuk diceritakan.

Hasan Al-Basri berkata: "Aku pernah menemui seseorang yang tidak bercela. Namun setelah ia mencela orang lain, maka orang lain mula menemukan cacatnya. Aku pernah berjumpa dengan seseorang yang memiliki banyak kekurangan. Namun karena dia diam daripada mencela orang lain, orang lain tidak pernah membicarakan cacatnya."

Jika ingin bercerita tentang orang yang telah mati, maka hendaklah kita berusaha untuk hanya menyebutkan akan kebaikan-kebaikannya. Perkara ini disukai sebab tidak akan melahirkan kebencian di hati ahli keluarganya.

Selain itu, cerita sebegini boleh menjadi bahan inspirasi dan motivasi kepada meneladani perbuatan tersebut.
Dalam hadis riwayat Al-Nasai, Rasulullah Saw bersabda: "Janganlah engkau menyebut orang-orang yang telah mati di antara kamu melainkan dengan kebaikan."


Diam lebih selamat

Lidah kita sangat berbahaya dan mesti selalu dijaga dengan baik. Jika kita diam dari mencela orang yang masih hidup, maka kita akan selamat dari celaan mereka. Jika kita diam dari mencela orang yang sudah mati, kita akan selamat dari kesusahan hisab di hari kiamat.

Rasulullah Saw bersabda: "Siapa menutupi (keburukan) seorang muslim, Allah akan menutupi (keburukannya) di dunia dan akhirat." (riwayat Muslim)

Semoga kita diberikan kekuatan untuk meniru teladan ulama-ulama salaf kita dan mulai menjaga lisan kita dari menyebutkan keburukan orang lain.